Aku untuk negeriku...
Yah, memang.. Kata diatas itu terdengar sangat-sangat-sangat klise. Bahkan terdengar mengada-ngada. Seorang-remajA-SMA-biasa memangnya bisa memberikan apa untuk negerinya??? Konyol! Yah, itulah realita... Pandangan masyarakat memang udah begitu dari jamannya majapahit sampai sekarang. 'Anak kecil emang bisa apa? Malah merepotkan saja kerjanya! Udah sanah, gak usah ikut-ikut and sok tau!'
hemm.. Apakah saya sebagai remaja-SMA-biasa ini bisa mengubah pandangan masyarakat yang sudah mengakar ini? Entahlah... Selagi saya menulis artikel ini, sebenarnya saya sendiri juga bingung. Guna saya bagi negeri tercinta ini memangnya apa? Hehehe...
Tapi, sebagai anak bangsa saya pastinya memiliki angan-angan yang sangat-sangat tinggi untuk negeri tercinta ini. Memang, sampai saat ini semua itu hanyalah angan-angan belaka. Mungkinkah bisa untuk saya wujudkan? Hemmm... Biarlah waktu yang akan menjawabnya.
Saya suka sekali nulis. Saya ingin banget bisa menulis artikel mengenai Indonesia serta kekayaan dan keragaman budayanya juga menyebarkan artikel itu untuk dibaca ke seluruh manusia yang ada di bumi dan kalo' bisa juga makhluk planet lain. Hehehe... *ngayal banget*. Di artikel itu pokoknya saya bakal mempromosikan negeri kita ini bak sales profesional.
Kita lihat saja, hutan-hutan Indonesia merupakan paru-paru dunia. Sehingga udaranya masih lumayan segar dan tidak pekat karena polusi seperti di negara-negara lain. Apalagi di daerah pedesaan, udaranya lebih segar lagi. Cocok banget dijadikan tempat beristirahat dan tempat dimana kita mendapatkan ketenangan. Keindahan-keindahan alamnya juga sangat menakjubkan. Laut, air terjun, pegunungan, dll. Apalagi, masyarakat di Indonesia itu terdiri dari berbagai macam suku. Tentunya setiap suku itu memiliki ciri khas masing-masing. Dari segi bahasa dan budaya sangatlah beragam. Nah, hal-hal seperti itu merupakan kekayaan yang jarang dimiliki oleh negara-negara lain yang cenderung homogen.
Dan dalam hal ini, semua oknum pastinya harus ikut andil untuk merubah citra negeri ini. Negara yang selama ini dipandang sebagai biang kerusuhan dan dipenuhi tikus berdasi ini harus dikonfrontasi ulang. Masyarakat yang tidak tertib dan tidak peduli terhadap sekitar harus disadarkan. Yah, pokoknya kita harus saling bekerjasama untuk mendapatkan hasil yang maksimal. Andai semua orang sadar akan peran masing-masing dan melakukannya dengan sebaik-baiknya dan semua saling mendukung. Niscaya, terciptalah Indonesia yang baru, negara Indonesia yang damai dan indah. Dijamin, para investor tidak akan berfikir lagi jika ingin menanamkan modalnya dan para turis berdatangan. Hal ini akan menaikkan visa negara. Dan bisa ditebak, tak ada lagi kemiskinan, kejahatan, dll.
Oh,,, indahnya negeriku!!!
I Luv Islam
04 Februari 2009
18 Desember 2008
Ini aku…
Lihatlah, penampakanku sekarang ini…
Lihatlah dengan hatimu...
Dapatkah kau baca sinar kepedihan yang terpancar dari wajahku???
Aku sekarang berada pada suatu kondisi yang semakin lama semakin membuatku terpuruk.
Sekarang, aku sedang merasakan suatu perasaan yang sepantasnya belum kudapatkan!
Aku belum kuat untuk merasakan ini...
Perasaan ini...
Membuat jiwaku yang masih labil ini, merasa takut...
Takut akan kehilangan...
Yah...
Apa aku memang pantas? Pantas menerima perlakuan ini?
Perlakuan yang membuatku shock!
Memang...
Patah hati tidak membuat kehidupanku berubah...
Tapi, bisa membuat diriku berubah...
Berubah dengan mudah...
Entah menjadi semakin baik atau malahan sebaliknya!
Maaf...
Maaf...
Maaf...
Sejuta kata maaf kulontarkan...
Tapi, siapa yang mengerti?
Adakah yang mengerti?
Bahkan... kalian yang membaca ini mungkin berfikir aku sudah gila!!!
Gila karena cinta...
Cinta???
Sesuatu yang abstrak yang bahkan belum ada seorangpun dapat mendefinisikannya dengan benar. Dapat dirasa, tapi tak dapat kau lihat! Bagaimana wujudnya??? Bagaimana rupanya??? Apa kalian tau rasa dari cinta??? Manis? Pahit? Tau tidak?
Aku adalah gadis bodoh yang terlalu bodoh dalam hal mencintai. Aku dibodoh-bodohi oleh cinta. DeFinisi cinta dalam hatiku sering berubah-ubah. Terkadang, cinta kukatan sebagai hidupku, diwaktu lain bahkan kukatakan cinta sebagai racun yang bisa membunuhku!
Hidup ini ternyata tidak mudah.
Bahkan aku hampir kalah oleh suatu ’rasa’ yang tidak jelas itu...
Tapi, aku tidak mau hidupku berakhir sia-sia tanpa kebahagiaan...
Tanpa harapan...
Tanpa kenangan...
Aku harus kuat!
Cukup seminggu aku terpuruk dalam keadaan ini!
Aku seorang gadis yang terlalu naif!!!
’inilah seni dalam hidup’ kata seorang teman yang sudah makan asam garam kehidupan saat kuberitahukan’rasa’ ini.
Hahaha...
Aku hanya tertawa hampa mendengar penuturannya...
Tawaku nyaris seperti tawa orang yang tidak waras.
Tapi, sepertinya memang benar...
Kalau begitu, aku akan membuat hidupku bagaikan seni abstrak!!!
Seni yang terlalu berharga untuk dapat dimengerti oleh sembarang orang...
Yah...
Akan kukuatkan diriku...
Demi diriku...
Dem hidupku...
Dan demi orang yang mencintaiku...
Lihatlah dengan hatimu...
Dapatkah kau baca sinar kepedihan yang terpancar dari wajahku???
Aku sekarang berada pada suatu kondisi yang semakin lama semakin membuatku terpuruk.
Sekarang, aku sedang merasakan suatu perasaan yang sepantasnya belum kudapatkan!
Aku belum kuat untuk merasakan ini...
Perasaan ini...
Membuat jiwaku yang masih labil ini, merasa takut...
Takut akan kehilangan...
Yah...
Apa aku memang pantas? Pantas menerima perlakuan ini?
Perlakuan yang membuatku shock!
Memang...
Patah hati tidak membuat kehidupanku berubah...
Tapi, bisa membuat diriku berubah...
Berubah dengan mudah...
Entah menjadi semakin baik atau malahan sebaliknya!
Maaf...
Maaf...
Maaf...
Sejuta kata maaf kulontarkan...
Tapi, siapa yang mengerti?
Adakah yang mengerti?
Bahkan... kalian yang membaca ini mungkin berfikir aku sudah gila!!!
Gila karena cinta...
Cinta???
Sesuatu yang abstrak yang bahkan belum ada seorangpun dapat mendefinisikannya dengan benar. Dapat dirasa, tapi tak dapat kau lihat! Bagaimana wujudnya??? Bagaimana rupanya??? Apa kalian tau rasa dari cinta??? Manis? Pahit? Tau tidak?
Aku adalah gadis bodoh yang terlalu bodoh dalam hal mencintai. Aku dibodoh-bodohi oleh cinta. DeFinisi cinta dalam hatiku sering berubah-ubah. Terkadang, cinta kukatan sebagai hidupku, diwaktu lain bahkan kukatakan cinta sebagai racun yang bisa membunuhku!
Hidup ini ternyata tidak mudah.
Bahkan aku hampir kalah oleh suatu ’rasa’ yang tidak jelas itu...
Tapi, aku tidak mau hidupku berakhir sia-sia tanpa kebahagiaan...
Tanpa harapan...
Tanpa kenangan...
Aku harus kuat!
Cukup seminggu aku terpuruk dalam keadaan ini!
Aku seorang gadis yang terlalu naif!!!
’inilah seni dalam hidup’ kata seorang teman yang sudah makan asam garam kehidupan saat kuberitahukan’rasa’ ini.
Hahaha...
Aku hanya tertawa hampa mendengar penuturannya...
Tawaku nyaris seperti tawa orang yang tidak waras.
Tapi, sepertinya memang benar...
Kalau begitu, aku akan membuat hidupku bagaikan seni abstrak!!!
Seni yang terlalu berharga untuk dapat dimengerti oleh sembarang orang...
Yah...
Akan kukuatkan diriku...
Demi diriku...
Dem hidupku...
Dan demi orang yang mencintaiku...
Apa Sih Mauku???
Hidupku terasa hampa…
Aku merasa ada kekosongan dalam diriku yang aku sendiri tidak tau apa itu. Aku tidak tertawa bila orang lain tertawa. Aku jarang merasa sedih. Aku tidak menangis saat orang lain menangis. Aku tidak kecewa saat orang lain kecewa. Aku jarang sekali merasakan sesuatu yang biasa orang alami. Aku selalu tenang…
Aku iri dengan mereka… kenapa sih, mereka bisa merasakan bahagia? merasakan kesedihan? Merasakan kekecewaan? Merasakan sesuatu yang membuat hidup mereka penuh warna? Kenapa aku tidak bisa merasakannya??? Kenapa hanya aku??? Benakku dipenuhi banyak sekali tanda tanya.
Sepertinya, ada sesuatu yang hilang dari diriku yang aku sendiri tidak tau itu apa. Dan semua orang memilikinya. Dan hal itu membuatku benci pada diriku sendiri. Aku iri!!! Teriak batinku...
Teman-temanku suka berkomentar tentang diriku.
“Kamu tuh orangnya cool banget yah? Gak kayak cewek-cewek biasanya.” Komentar Rico sepintas lalu.
“Bo’ong yah? Masak belum pernah pacaran sih. Gak mungkin banget deh.” Kata Lena saat dia bertanya tentang pacarku.
“Kamu perfect banget! Udah pinter, cantik lagi. Bikin iri ajah, hehehe.” Rika berkata sambil tertawa tulus yang membuatku iri.
Masih banyak lagi komentar teman-temanku tentang diriku. Dan aku selalu meresponnya dengan senyum tipis yang dipaksakan. Atau, kalau gak begitu aku meresponnya dengan berkata: ‘Ah, gak gitu-gitu amat deh. Hehehe...’ atau, ‘bisa aja...’ dan aku pasti melakukannya dengan terpaksa. Untung saja tidak pernah ada yang menyadari bahwa aku meresponnya dengan terpaksa.
Aku tidak pernah tertawa ataupun merespon cerita orang lain dengan tulus. Bukannya kenapa, aku selalu menganggap cerita orang lain biasa saja. Aku menganggap mereka terlalu melebih-lebihkan apa yang terjadi. Jadi, jika mereka bercerita denganku aku akan pura-pura tertarik.
Mereka juga suka curhat denganku. Aku pura-pura tertawa saat mereka tertawa, pura-pura ikut merasa sedih saat mereka sedih, pokoknya selalu begitu. Kepura-puraanku itu tidak pernah mereka sadari. Bukannya aku munafik atau apa. Aku hanya merasa tidak enak dengan mereka. Tidak salah kan, berpura-pura untuk kesenangan seseorang???
Kalau aku meresponnya seperti apa yang aku pkirkan pasti jawabanku hanya sekadar ‘oh..’ atau, ‘gak usah berlebihan deh, cuma berantem doang.’ Hanya itu responku, dan memang hanya itulah respon yang muncul di kepelaku saat mereka menceritakan masalah mereka. Bisa-bisa aku tidak akan disukai karena terkesan sombong dan angkuh.
Saat mendapat ranking di kelas pun aku tidak pernah merasakan rasa senang yang berlebihan, biasa-biasa saja. Aku pernah ditembak cowok, dan perasaanku tidak berbunga-bunga seperti teman-temanku yang lainnya. Biasa ajah... Perekonomian keluargaku memang tidak kaya-kaya amat, tapi masih bisa dikatakan berlebih lah. Lalu, apa sih yang kurang pada diriku??? Bukannya aku tidak bersyukur. Teman-temanku juga keadaannya sama denganku. Tapi, kenapa mereka bisa terlihat begitu bahagia? Kenapa???
Aku juga tidak memiliki teman yang bisa kuajak bicara tentang apa yang kurasakan saat ini. Mengenai perasaanku yang tidak bisa kujelaskan dengan kata-kata, merasakan kekosongan yang membuatku bingung, ataupun hanya sekedar mendengarkan curhatanku. Bukannya aku termasuk golongan anak kuper yang tidak dikenal orang. Aku punya banyak teman. Tapi, bukan teman yang bisa diajak berbagi. Tidak tau kenapa, aku tidak memiliki teman dekat seperti layaknya remaja seusiaku. Bagaimanapun juga, aku inih kan hanya siswi SMA biasa. Ingin seperti teman-temanku yang lainnya. Mungkin, aku yang selalu menutup diri sehingga orang lain enggan medekatiku. Entahlah…
Aku jadi teringat kejadian pagi tadi. Tadi, aku sempat ngobrol sebentar dengan Rena sebelum bel masuk.
‘Kamu pembohong.’ Katanya dengan santai, seakan yang dikatakannya adalah hal yang biasa.
‘Hah??? Maksud kamu apa?.’ Aku terkejut mendengar kata-katanya.
‘Kamu pembohong besar!’ Rena memandangiku, masih dengan ekspresi yang sama.
‘Apaan sih? Gak ngerti deh.’ Kataku sambil garuk-garuk kepala.
‘Udahlah, gak usah pura-pura. Kamu orangnya tidak pernah tulus, penuh dengan kepura-puraan. Tapi, kamu tidak mau mengakuinya. Bahkan, dengan diri kamu sendiri kamu tidak mau jujur. Bukankah, itu sama saja dengan pembohong besar???’ katanya, dengan pandangan yang sulit diartikan. Pandangannya iba, tapi tajam seperti ingin marah.
Aku terdiam mendengar kata-katanya yang pas menancap ke ulu hatiku.
‘Besok, kamu bisa cerita ke aku. Pikirkanlah...’ katanya, lalu pergi begitu saja.
Aku terpaku di depan pintu kelas, bingung. Kenapa dia tau???
Kata-katanya, masih terngiang-ngiang di kepalaku. Aku bingung… Apa aku separah itu??? Apa aku memang begitu??? Apakah semuanya terlihat jelas dari wajahku??? Sepertinya, aku tidak bakal bisa menjawab pertanyaanku ini sendiri. Aku butuh seseorang…
Esoknya…
“Ren.. Aku…” belum sempat aku menyelesaikan kata-kataku, tanganku sudah ditarik Rena.
“Dikantin aja. Supaya lebih enak ngomongnya…” katanya, sambil menarikku menuju kantin.
Aku hanya diam dan mengikutinya sambil memikirkan kata-kata apa yang akan kukatakan supaya dia mengerti.
“Disana aja, supaya kita lebih leluasa ngomongnya.” Katanya lagi, sambil menunjuk pojokan yang agak sepi. Aku diam sambil mengangguk dan mengikutinya…
“A A ku bingung mulai dari mana.” Kataku tergagap-gagap.
“Ceritakan saja... Gak usah mikirin aku ngerti atau enggak. Biarkan semuanaya mengalir dan yang terpenting kamu harus jujur.”
“Kamu janji yah, rahasiain semua inih.”
“Aku, janji.” Katanya, sambil mengacungkan dua jarinya.
Entah kenapa, aku percaya sama dia. Awalnya, terasa sulit menceritakan ini semua. Karena Sebelumnya, aku belum pernah curhat sebebas ini, sejujur ini... Tentang kegundahan hatiku, kebingungan, perasaanku, dan segala hal lainnya. Lena memang pendengar yang sangat baik. Tidak pernah menyelaku sekalipun, selalu mendengarkan dengan mata yang penuh semangat disertai komentar-komentar kecil yang malahan menambah semangatku. Setelah puas menceritakan segala unek-unek yang mengumpul dihatiku, aku merasakan suatu perasaan yang belum pernah kurasakan sebelummnya. Perasaan, yang membuat hatiku hangat.
“Aku sekarang mengerti apa yang sedang kamu rasain... aku juga tau sesuatu yang membuat kamu jadi kayak gini.”
“Apa???.” Tanyaku, penasaran.
“Ehem! Begini... Kamu belum pernah ngerasain yang namanya cinta! Yah, ituh dia yang jadi masalah buat kamu!” katanya, dengan antusias.
“Aku gak ngerti maksud kamu. Memangnya, ada hubungannya yah?’ tanyaku bingung.
“Ginih, aku jelasin. Cinta itu adalah dasar dari kebahagiaan semua hal. Bahkan, kita ini hidup karena cinta.... Cinta Allah ke makhluknya. Kita sekarang bertahan karena cinta ortu ke kita. Dan satu yang belum kamu dapatkan, Cinta kamu ke diri sendiri. Itu, yang bikin kamu gak bahagia... Cinta ituh adalah sesuatu yang simple banget. Kamu bisa merasakannya kapan aja, dimana aja... kamu gak usah mikir jauh-jauh tentang cinta. Mulailah dengan mencintai diri kamu dulu. Itu adalah satu hal yang terpenting.”
Setelah itu, aku sadar... ternyata kekuatan cinta sangat besar...
***
Aku merasa ada kekosongan dalam diriku yang aku sendiri tidak tau apa itu. Aku tidak tertawa bila orang lain tertawa. Aku jarang merasa sedih. Aku tidak menangis saat orang lain menangis. Aku tidak kecewa saat orang lain kecewa. Aku jarang sekali merasakan sesuatu yang biasa orang alami. Aku selalu tenang…
Aku iri dengan mereka… kenapa sih, mereka bisa merasakan bahagia? merasakan kesedihan? Merasakan kekecewaan? Merasakan sesuatu yang membuat hidup mereka penuh warna? Kenapa aku tidak bisa merasakannya??? Kenapa hanya aku??? Benakku dipenuhi banyak sekali tanda tanya.
Sepertinya, ada sesuatu yang hilang dari diriku yang aku sendiri tidak tau itu apa. Dan semua orang memilikinya. Dan hal itu membuatku benci pada diriku sendiri. Aku iri!!! Teriak batinku...
Teman-temanku suka berkomentar tentang diriku.
“Kamu tuh orangnya cool banget yah? Gak kayak cewek-cewek biasanya.” Komentar Rico sepintas lalu.
“Bo’ong yah? Masak belum pernah pacaran sih. Gak mungkin banget deh.” Kata Lena saat dia bertanya tentang pacarku.
“Kamu perfect banget! Udah pinter, cantik lagi. Bikin iri ajah, hehehe.” Rika berkata sambil tertawa tulus yang membuatku iri.
Masih banyak lagi komentar teman-temanku tentang diriku. Dan aku selalu meresponnya dengan senyum tipis yang dipaksakan. Atau, kalau gak begitu aku meresponnya dengan berkata: ‘Ah, gak gitu-gitu amat deh. Hehehe...’ atau, ‘bisa aja...’ dan aku pasti melakukannya dengan terpaksa. Untung saja tidak pernah ada yang menyadari bahwa aku meresponnya dengan terpaksa.
Aku tidak pernah tertawa ataupun merespon cerita orang lain dengan tulus. Bukannya kenapa, aku selalu menganggap cerita orang lain biasa saja. Aku menganggap mereka terlalu melebih-lebihkan apa yang terjadi. Jadi, jika mereka bercerita denganku aku akan pura-pura tertarik.
Mereka juga suka curhat denganku. Aku pura-pura tertawa saat mereka tertawa, pura-pura ikut merasa sedih saat mereka sedih, pokoknya selalu begitu. Kepura-puraanku itu tidak pernah mereka sadari. Bukannya aku munafik atau apa. Aku hanya merasa tidak enak dengan mereka. Tidak salah kan, berpura-pura untuk kesenangan seseorang???
Kalau aku meresponnya seperti apa yang aku pkirkan pasti jawabanku hanya sekadar ‘oh..’ atau, ‘gak usah berlebihan deh, cuma berantem doang.’ Hanya itu responku, dan memang hanya itulah respon yang muncul di kepelaku saat mereka menceritakan masalah mereka. Bisa-bisa aku tidak akan disukai karena terkesan sombong dan angkuh.
Saat mendapat ranking di kelas pun aku tidak pernah merasakan rasa senang yang berlebihan, biasa-biasa saja. Aku pernah ditembak cowok, dan perasaanku tidak berbunga-bunga seperti teman-temanku yang lainnya. Biasa ajah... Perekonomian keluargaku memang tidak kaya-kaya amat, tapi masih bisa dikatakan berlebih lah. Lalu, apa sih yang kurang pada diriku??? Bukannya aku tidak bersyukur. Teman-temanku juga keadaannya sama denganku. Tapi, kenapa mereka bisa terlihat begitu bahagia? Kenapa???
Aku juga tidak memiliki teman yang bisa kuajak bicara tentang apa yang kurasakan saat ini. Mengenai perasaanku yang tidak bisa kujelaskan dengan kata-kata, merasakan kekosongan yang membuatku bingung, ataupun hanya sekedar mendengarkan curhatanku. Bukannya aku termasuk golongan anak kuper yang tidak dikenal orang. Aku punya banyak teman. Tapi, bukan teman yang bisa diajak berbagi. Tidak tau kenapa, aku tidak memiliki teman dekat seperti layaknya remaja seusiaku. Bagaimanapun juga, aku inih kan hanya siswi SMA biasa. Ingin seperti teman-temanku yang lainnya. Mungkin, aku yang selalu menutup diri sehingga orang lain enggan medekatiku. Entahlah…
Aku jadi teringat kejadian pagi tadi. Tadi, aku sempat ngobrol sebentar dengan Rena sebelum bel masuk.
‘Kamu pembohong.’ Katanya dengan santai, seakan yang dikatakannya adalah hal yang biasa.
‘Hah??? Maksud kamu apa?.’ Aku terkejut mendengar kata-katanya.
‘Kamu pembohong besar!’ Rena memandangiku, masih dengan ekspresi yang sama.
‘Apaan sih? Gak ngerti deh.’ Kataku sambil garuk-garuk kepala.
‘Udahlah, gak usah pura-pura. Kamu orangnya tidak pernah tulus, penuh dengan kepura-puraan. Tapi, kamu tidak mau mengakuinya. Bahkan, dengan diri kamu sendiri kamu tidak mau jujur. Bukankah, itu sama saja dengan pembohong besar???’ katanya, dengan pandangan yang sulit diartikan. Pandangannya iba, tapi tajam seperti ingin marah.
Aku terdiam mendengar kata-katanya yang pas menancap ke ulu hatiku.
‘Besok, kamu bisa cerita ke aku. Pikirkanlah...’ katanya, lalu pergi begitu saja.
Aku terpaku di depan pintu kelas, bingung. Kenapa dia tau???
Kata-katanya, masih terngiang-ngiang di kepalaku. Aku bingung… Apa aku separah itu??? Apa aku memang begitu??? Apakah semuanya terlihat jelas dari wajahku??? Sepertinya, aku tidak bakal bisa menjawab pertanyaanku ini sendiri. Aku butuh seseorang…
Esoknya…
“Ren.. Aku…” belum sempat aku menyelesaikan kata-kataku, tanganku sudah ditarik Rena.
“Dikantin aja. Supaya lebih enak ngomongnya…” katanya, sambil menarikku menuju kantin.
Aku hanya diam dan mengikutinya sambil memikirkan kata-kata apa yang akan kukatakan supaya dia mengerti.
“Disana aja, supaya kita lebih leluasa ngomongnya.” Katanya lagi, sambil menunjuk pojokan yang agak sepi. Aku diam sambil mengangguk dan mengikutinya…
“A A ku bingung mulai dari mana.” Kataku tergagap-gagap.
“Ceritakan saja... Gak usah mikirin aku ngerti atau enggak. Biarkan semuanaya mengalir dan yang terpenting kamu harus jujur.”
“Kamu janji yah, rahasiain semua inih.”
“Aku, janji.” Katanya, sambil mengacungkan dua jarinya.
Entah kenapa, aku percaya sama dia. Awalnya, terasa sulit menceritakan ini semua. Karena Sebelumnya, aku belum pernah curhat sebebas ini, sejujur ini... Tentang kegundahan hatiku, kebingungan, perasaanku, dan segala hal lainnya. Lena memang pendengar yang sangat baik. Tidak pernah menyelaku sekalipun, selalu mendengarkan dengan mata yang penuh semangat disertai komentar-komentar kecil yang malahan menambah semangatku. Setelah puas menceritakan segala unek-unek yang mengumpul dihatiku, aku merasakan suatu perasaan yang belum pernah kurasakan sebelummnya. Perasaan, yang membuat hatiku hangat.
“Aku sekarang mengerti apa yang sedang kamu rasain... aku juga tau sesuatu yang membuat kamu jadi kayak gini.”
“Apa???.” Tanyaku, penasaran.
“Ehem! Begini... Kamu belum pernah ngerasain yang namanya cinta! Yah, ituh dia yang jadi masalah buat kamu!” katanya, dengan antusias.
“Aku gak ngerti maksud kamu. Memangnya, ada hubungannya yah?’ tanyaku bingung.
“Ginih, aku jelasin. Cinta itu adalah dasar dari kebahagiaan semua hal. Bahkan, kita ini hidup karena cinta.... Cinta Allah ke makhluknya. Kita sekarang bertahan karena cinta ortu ke kita. Dan satu yang belum kamu dapatkan, Cinta kamu ke diri sendiri. Itu, yang bikin kamu gak bahagia... Cinta ituh adalah sesuatu yang simple banget. Kamu bisa merasakannya kapan aja, dimana aja... kamu gak usah mikir jauh-jauh tentang cinta. Mulailah dengan mencintai diri kamu dulu. Itu adalah satu hal yang terpenting.”
Setelah itu, aku sadar... ternyata kekuatan cinta sangat besar...
***
Langganan:
Postingan (Atom)
